Travel Paket Umroh Plus Turki Istanbul

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. promo umroh murah Indramayu

saco-indonesia.com, Sosok mayat dengan berambut cepak penuh tato yang ditemukan dalam karung tergeletak di trotoar depan SDN 03 Jalan Hati Suci RT 02/7 Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah dikenali keluarga.

“Terungkapnya identitas mayat tersebut dari plat nomer polisi sepeda motor Ninja RR bernomer polisi B 3248 SHJ, yang telah dipakai korban di Polda Metro Jaya dan telah diketahui identitasnya,” kata Kanit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang Kompol Sanrtoso,SH.

Saat identitas pria beranak satu itu dikroscek nomer kendaraannya berulang-ulang di polda, ternyata lelaki yang telah ditemui itu bernama Londewie Edward,36, warga Jalan P No.6 RT 01/11 Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.

Menurut Ny Oka,40, tante korban yang datang ke Polsek Tanah Abang, ia telah membenarkan kalau pria yang ditemukan itu adalah keponakannya. “Kami juga kaget saat polisi datang ke rumah dan memberi kabar kalau Edward, ditemukan tewas dalam karung di Tanah Abang,” ujarnya.

Begitu dapat kabar, tante korban segera menuju ke RSCM dan kemudian ke kantor polisi untuk dapat mengurus jenzahnya dari rumah sakit. “Memang keponakan saya ini agak bandel dan jarang pulang,” kata Oka.

Pria itu ditemukan awalnya di depan sekolahan sudah tewas di dalam karung. Petugas mengirimnya ke RSCM. Namun posisi mayat tidak ada tanda luka-luka karena wajah ditutup kain. “Masalah penyebab kematian belum bisa dikatakan pembunuhanan, untuk dapat memastikan nanti setelah ada hasil otopsi,” kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Kus Subiayantoro


Editor : Dian Sukmawati

MAYAT DALAM KARUNG DIKENALI KELUARGA

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »