Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. travel umroh haji Garut

saco-indonesia.com, Even jazz di tanah air saat ini memang relatif telah menjamur dari tahun ke tahun. Itulah yang membuat Mus Mujiono itu berpendapat bahwa apresiasi masyarakat dan pertumbuhan jazz yang sangat tinggi. Bahkan menurut Mus Mujiono, Indonesia lebih berkembang daripada Eropa.

"Saya banyakan off air. Karena event jazz di Indonesia sangat tinggi, banyak sekali bahkan. Tak hanya di Jakarta," kata Mus saat dijumpai di Jak Jazz 2013 hari kedua, Istora Senayan, Jakarta Pusat.

"Pertumbuhan kita lebih besar dari Eropa, setiap kota di Indonesia telah mempunyai event jazz yang profesional, kita juga bisa tahu musisi kita lagi pesat majunya," lanjutnya.

Mus pun juga sangat bersyukur telah memiliki banyak event musik, khususnya jazz. Di situ banyak sekali bermunculan talenta talenta muda yang tidak canggung lagi ketika berkolaborasi dengan senior.

"Event seperti itu diharapkan dapat memacu industri musik Indonesia. Dengan ada event, bagus sekali karena kita juga bisa lihat beberapa musisi jazz muda yang bermunculan saat ini semua instrumen di munculkan," tukasnya.

Editor : dian sukmawati
Sumber : kapanlagi.com

PERTUMBUHAN MUSIK JAZZ DI INDONESIA LEBIH BESAR

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »