Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. travel umroh murah 2017 jakarta

saco-indonesia.com, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memenuhi janjinya untuk dapat mendatangi posko pengungsi letusan Gunung Sinabung di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pada kesempatan itu, SBY juga telah meminta agar pemerintah setempat merelokasi warga di lereng gunung ke lokasi yang lebih aman.

"Relokasi, radius 3 km itu saya kira gunung berapi manapun sangat berbahaya, yang berada di radius 3 km tidak bisa tinggal dan harus relokasi. Boleh bertani di tempat itu, tapi tempat tinggal harus di luar radius yang disebut aman tadi," kata SBY di Posko Gereja Katolik Paroki, Karo, Kamis (23/1).

Namun, SBY juga tidak menutup mata jika rencana tersebut akan mendapat perlawanan keras dari warga. SBY juga hanya meminta kepada gubernur dan bupati Karo agar bersabar melakukannya.

"Harus sabar karena kasus yang direlokasi tidak mau," tukasnya.

Selain telah menyoroti masalah relokasi warga, SBY juga telah meminta agar pengelolaan pengungsi dapat dijalankan dengan baik. Tidak boleh ada pengungsi yang mengalami sakit atau meninggal akibat tidak adanya perawatan atau pelayanan yang memadai untuk mereka.

"Masalah rumah rusak bisa diganti, kalau saudara kita meninggal, kita tidak bisa ganti. Semua upaya untuk keselamatan saudara kita," kata SBY usai mendengar paparan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjobroto tentang penanganan pengungsi di Kabanjahe.

Kemudian, fasilitas dasar bagi pengungsi juga harus tetap diutamakan, tidak boleh ada satupun kekurangan. "Pelayanan saudara kita di tempat penampungan, 'basic' untuk makan minum air bersih dan peralatan kesehatan tidak boleh ada kekurangan," tegasnya.

Terakhir, SBY juga telah meminta gubernur dan bupati Karo untuk dapat mencarikan solusi bagi kerusakan yang telah terjadi atas lahan pertanian milik warga. Dia pun juga mengajak para pemimpin daerah untuk dapat menghitung langsung bersama-sama terkait kerugian-kerugian yang terjadi.

"Solusi bagi petani yang karena musibah benar-benar rusak. tentu kalau dibebankan pada yang bersangkutan akan berat, kebijakan seperti apa, nanti malam (saat rapat-red) saya ada hitung-hitungannya," kata Presiden.

Sebelumnya, Gatot dalam paparannya mengatakan, masa tanggap darurat sejak 15 September 2013 sudah enam kali diperpanjang. Intensitas terus menerus 750 kali erupsi, jumlah pengungsi 203 desa, 4 kecamatan 28.745 orang atau 9.045 Kepala Keluarga tersebar di 43 tempat pengungsian.


Editor : Dian Sukmawati

WARGA GUNUNG SINABUNG HARUS DIRELOKASI
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »