Travel Paket Umroh Plus Turki Istanbul

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. umroh november 2018 Cipayung

Nama Cirebon memang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Cirebon juga disebut-sebut sebagai salah satu Kota Sunan, karena di kota inilah Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran Islam.

Bahkan makam Sunan Gunung Jati yang dikenal pula dengan panggilan Syekh Syarif Hidayatullah (1448 - 1568), terdapat di Cirebon, tepatnya di Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon. Makam tersebut hanya sekitar tiga km sebelah utara Kota Cirebon.

Kawasan makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektare. Selain tempat utama untuk para peziarah, kawasan itu juga dilengkapi tempat pedagang kaki lima, alun-alun, lapangan parkir, dan fasilitas umum lainnya.

Cukup banyak warisan Sunan Gunung Jati sebagai seorang wali Allah. Di antaranya Masjid Merah di Kota Cirebon dan Masjid Sunan Gunung Jati di area Keraton Cirebon. Masjid Merah yang telah berusia 500 tahun ini, kental akan corak akulturasi budaya Jawa dan Cina.

Kondisi itu setidaknya dapat dilihat dari pemakaian keramik Cina sebagai ornamen interior masjid. Cukup banyak ditemukan keramik di masjid yang terletak di perkampungan Arab, Jln. Panjunan Cirebon tersebut.

Lalu mengapa masjid yang banyak dikunjungi peziarah terutama pada 27 Ramadan ini disebut Masjid Merah? Mungkin salah satu alasannya, hampir seluruh bangunan masjid ini memang berwarna merah. Warna ini sangat mendominasi masjid yang sejak awal berdiri sampai sekarang belum belum mengalami perubahan ini.

Saat memasukinya, tampak gerbang berbentuk pura. Keunikan lain dari Masjid Merah adalah dinding-dindingnya yang ditempeli berbagai jenis keramik Cina. Konon keramik-keramik tersebut hadiah dari seorang putri Cina bernama Khong In, yang kemudian diperistri Sunan Gunung Jati pada tahun 1460.

Saat Ramadan seperti sekarang ini, Masjid Merah selalu menjadi tempat wisata rohani, bukan hanya bagi warga Kota Cirebon. Sebab banyak pula pengunjung yang datang dari berbagai kota lain di Jawa Barat.

Bahkan saat memasuki hari ke-27 Ramadan, masjid ini tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya menjadi magnet bagi pengunjung, terutama umat muslim untuk datang dan salat.

Tak heran bila salah satu peninggalan fenomenal Sunan Gunung Jati ini dari waktu ke waktu tak pernah sepi pengunjung. Untuk itu, rugi rasanya berkunjung ke Cirebon tanpa mampir ke masjid yang terletak di perkampungan Arab ini.

Azan pitu

Selain Masjid Merah, peninggalan lainnya dari Sunan Gunung Jati yang kerap dikunjungi yaitu Masjid Sunan Gunung Jati. Keunikan masjid yang dikenal pula dengan sebutan Masjid Sang Ciptarasa ini adalah tiang tatal. Dari 74 tiang yang ada di dalam masjid, salah satunya dirangkai sendiri oleh Sunan Gunung Jati dari potongan-potongan kayu sisa atau tatal.

Uniknya, tiang tatal tersebut penuh dengan makna filosofis. Salah satunya filosofi tentang persatuan yang kokoh, walaupun terdiri atas potongan-potongan yang berbeda. Tentu saja filosofi tersebut menandakan betapa Sunan Gunung Jati kala itu memiliki wawasan ke depan.

Keunikan lainnya, bila biasanya azan yang menandai datangnya waktu salat dikumandangkan satu orang muazin, di Masjid Sunan Gunung Jati ini, azan dikumandangkan tujuh muazin sekaligus atau azan pitu.

Sejatinya, di masjid yang berusia ratusan tahun ini, berbagai tradisi peninggalan salah satu sunan dari sembilan Sunan Walisongo masih tetap dilestarikan. Termasuk upaya melestarikan azan pitu.

Biasanya azan pitu ini dilakukan saat datangnya waktu salat Jumat. Ketika salat Jumat dimulai, tujuh muazin pun berbaris. Lalu serentak mereka mengumandangkan azan. Memanggil para jemaah untuk menunaikan kewajiban salat Jumat.

Sama seperti azan di masjid-masjid lain, azan pitu di Masjid Sunan Gunung Jati ini tidak mengalami perubahan lafal. Namun karena dikumandangkan tujuh muazin sekaligus, suaranya terasa lebih menggema.

Selain itu, Masjid Sang Ciptarasa juga dikenal memiliki air sumur yang bertuah. Warga sekitar banyak yang mencari berkah, menggunakan air tersebut untuk mencuci muka, bahkan ada juga yang membawanya pulang sebagai obat.

Percaya atau tidak, kembali pada diri masing-masing. Namun yang jelas, jangan lupa mengunjungi Masjid Sang Ciptarasa bila berkunjung ke Cirebon. Sebab pengalaman spiritual yang diperoleh di masjid ini akan terasa berbeda dan semakin melengkapi kegiatan wisata Ramadan di Cirebon. Selamat mencoba.

Sumber : http://www.bandung.eu

Baca Artikel Lainnya : PAKET WISATA ROHANI

 

TOUR KE MASJID MERAH CIREBON

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Ghostly Voices From Thomas Edisonís Dolls Can Now Be Heard

Artikel lainnya »